[ selected Competitions ]

TRISAKTI LIVING SKIN_ A breathing Architecture for Knowledge,Climate dan Life

Gedung Rektorat Trisakti dipahami bukan sekadar sebagai bangunan administratif, melainkan sebagai wajah
pengetahuan yang hidup di tengah kota yang terus berubah. Fasadnya dirancang sebagai kulit yang bernapas,
lapisan yang tidak seragam, tetapi beragam, mengikuti perjalanan matahari yang membentuk ritme harian
bangunan.Setiap sisi bangunan merespons cahaya secara berbeda, sebagaimana makhluk hidup menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Pada area dengan paparan paling intens, fasad berkembang melampaui fungsi
pelindung: ia mulai berinteraksi dengan udara kota, menghadirkan mikro-kehidupan sebagai simbol harapan,
pembelajaran, dan tanggung jawab ekologis.Melalui pendekatan ini, arsitektur tidak hanya berdiri di atas tanah, tetapi ikut hidup bersama lingkungan. Fasad menjadi perwujudan nilai Trisakti , keseimbangan antara kekuatan, adaptasi, dan kehidupan, menjadikan bangunan bukan hanya tempat belajar, tetapi bagian dari proses belajar itu sendiri. 

Mikroalga merupakan organisme fotosintetik yang mampu menyerap
CO₂ dan menghasilkan oksigen (O₂) melalui proses fotosintesis dengan
bantuan cahaya matahari. Selain itu, mikroalga menghasilkan biomassa
yang berpotensi dimanfaatkan sebagai energi terbarukan (biofuel)
dan berbagai produk berkelanjutan.Dalam penerapan arsitektur, mikroalga diintegrasikan pada fasad bangunan sebagai sistem hidup yang membentuk hubungan simbiosis antara bangunan dan lingkungan. Fasad mikroalga memanfaatkan limbah CO₂ dan air dari aktivitas bangunan, sekaligus meningkatkan kualitas udara, efisiensi energi, dan berperan sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang mendukung konsep bangunan berkelanjutan.

Principal Architect

Ar. Muh.Irsyad IAI 

Team: 

  1. Elleni Manurung 
  2. Vika Maharani
  3. Made Ray 
  4. Dwi Ramadhani 
  5. Adam Handika
  6. Syahril Mpuhu 
  7. Faisal 
Gallery