Menempatkan arsitektur sebagai pelindung nilai budaya. “Ngayomi” diwujudkan melalui ruang yang menyambut dan merangkul setiap pengguna jalan, sedangkan “Kukuh” diwujudkan melalui bentuk gapura yang kokoh sebagai simbol keberlanjutan identitas budaya Yogyakarta.
Kita harus kembali ke akar. Hadir bukan sekadar sebagai ruang transisi spasial yang bisu, gerbang perbatasan ini sejatinya adalah sebuah perayaan atas kearifan lokal kita. Desain ini menghidupkan kembali kehangatan ATAP JOGLO, sebuah living tradition yang secara rendah hati merangkul dan mengayomi setiap langkah pendatang dengan napas keramahtamahan khas Nusantara. Lebih dari itu, karya ini berupaya menjunjung tinggi keluhuran warisan peradaban CANDI PRAMBANAN, membuktikan kepada dunia bahwa tradisi kita bukanlah sekadar masa lalu, melainkan DNA untuk membangun masa depan. Dan yang tak kalah penting, sebuah arsitektur itu harus membumi, ia berdiri dengan fondasi yang jujur dan tangguh layaknya ketegaran GUNUNG MERAPI, bertugas menjaga roh serta identitas sejati Yogyakarta agar tidak tergerus oleh pusaran zaman.
Principal Architect: Ar. Muh.Irsyad. IAI Teams: – Vika Maharani – Made Ray -Syahril Mpuhu – Adam Handika – Diva Charcia -Shindunata – Endri zuhra